|
|
Judul:
Genealogi Intelektual Ulama Betawi,
Melacak Jaringan Ulama Betawi dari
Awal Abad Ke-19 sampai Abad Ke-21
Penulis:
Rakhmad Zailani Kiki dkk
Penerbit:
Jakarta Islamic Centre (JIC)
Tahun:
I, Februari 2011
Tebal:
xx+184 halaman
Peresensi:
Ahmad Syaikhu
|
Genealogi intelektual dalam dunia
keilmuan dan pengetahuan adalah hal yang sangat penting. Ia merupakan sebuah
aspek yang dapat menentukan validitas dan bobot sebuah ilmu. Terlebih dalam
dunia ilmiah, referensi menjadi tolak ukur keunggulan ilmu yang
ditransformasikan. Dalam terminologi Islam, genealogi biasa disebut dengan
sanad. Buku Genealogi Intelektual Ulama Betawi, Melacak Jaringan Ulama Betawi
dari Awal Abad Ke-19 sampai Abad Ke-21 adalah “Literatur yang dalam kajian
Islam jamak dikenal dengan istilah tarjamah, yaitu sesuatu yang dalam
historiografi Barat disebut dengan kamus biografi (biographical dictionary),”
papar Azyumardi Azra dalam pengantar buku ini.
Buku ini menjadi jawaban atas peran
dan kontribusi ulama Betawi yang redup dalam panggung sejarah. Padahal, mereka
tidak hanya eksis dalam hal penyebaran dan pelestarian Islam di Nusantara,
namun juga telah banyak berkontribusi dalam memperjuangkan kemerdekaan
Indonesia. Adalah maklum bahwa kawasan Betawi adalah Sunda Kelapa atau Batavia
yang kini masyhur dengan nama Jakarta, ibu kota Indonesia, dan juga meliputi
Bekasi, Depok Tanggerang, hingga Karawang. Ini menunjukkan jaringan ulama
Betawi cukup luas. Kajian yang dilakukan oleh Jakarta Islamic Centre (JIC)
dalam buku ini pun menjadi luas, meski tidak memaparkan sosok-sosok ulama yang
termuat di dalamnya dengan detail lantaran karya ini bukan buku biografi.
Pada abad ke-19, ulama yang menjadi titik sentral adalah Syekh Junaid al-Batawi, ia adalah poros ulama sentral Betawi masa kini yang lahir di Pekojan dan masyhur di Mekkah lantaran pernah menduduki jabatan imam Masjidil Haram serta Syaikhul Masyayikh yang terkenal di kalangan Sunni dan mazhab Syafi ’i. Di bawah asuhannya, lahir ulama-ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabawi, dan dari Betawi, Syekh Mujitaba al-Batawi, serta Guru Mirshod Cipinang Muara.
Pada abad ke-19, ulama yang menjadi titik sentral adalah Syekh Junaid al-Batawi, ia adalah poros ulama sentral Betawi masa kini yang lahir di Pekojan dan masyhur di Mekkah lantaran pernah menduduki jabatan imam Masjidil Haram serta Syaikhul Masyayikh yang terkenal di kalangan Sunni dan mazhab Syafi ’i. Di bawah asuhannya, lahir ulama-ulama seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabawi, dan dari Betawi, Syekh Mujitaba al-Batawi, serta Guru Mirshod Cipinang Muara.
Buku bersampul cokelat keemasan ini
sangat menarik lantaran genealogi intelektual ulama Betawi dinarasikan begitu
unik membentuk jaringan yang sistematik. Ulama-ulama terkemuka tumbuh-kembang
dengan pelbagai macam model, mulai dari pondok pesantren, madrasah, majlis
taklim, dan bahkan bermukim ke Timur Tengah. Namun, yang lebih menarik,
kebanyakan ulama Betawi yang meski hanya mengenyam bangku majlis taklim mampu
setaraf dengan ulama-ulama internasional, sebut saja muallim KH Syafi ’i
Hadzami dan Syekh KH Saifuddin Amsir.
Membaca buku ini kita diajak melacak
jaringan ulama Betawi yang telah menghidupkan Jakarta dengan nuansa
religiusitas di tengah-tengah hiruk-pikuk Jakarta. Ulama Betawi telah eksis
sejak beberapa abad silam di buminya, hingga kini mereka terus melestarikan dan
meningkatkan diri untuk membimbing dan menjawab permasalahan umat yang semakin
modern. (*)
Dimuat di Koran Jakarta, 09
Maret 2011
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar