|
|
Judul: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata Penerbit: Bentang Pustaka, 2005 Tebal: 529 hal ISBN: 979-3062-79-7 |
Saya dulu sekolah di
salah satu SD Muhammadiyah yang ada di kota Palembang. Di sekolah itu, selain
pelajaran-pelajaran umum, ada juga beberapa pelajaran tambahan, yang waktu itu
disebut sebagai “muatan lokal.” Di antaranya, Kemuhammadiyahan. Di dalamnya,
saya diajarkan tentang arti dan tujuan dari pendidikan yang diinginkan oleh
Muhammadiyah. Sepintas kedengaran seperti indoktrinasi. Tapi, sebenarnya bukan,
dan kami—agaknya—masih menyenanginya ketimbang pelajaran Pendidikan Moral
Pancasila. Seperti Ikal dan kawan-kawan.
Ikal bersekolah di SD
Muhammadiyah Belitung (disebut juga Belitong). Berbeda dengan saya yang di
ibukota Propinsi Sumatera Selatan (waktu itu Belitung masih satu propinsi
dengan Palembang), kondisi sekolahnya menyedihkan. Bangunan sekolah sudah
doyong-hampir-roboh. Tak ada alat-alat bantu pendidikan seperti tabel-tabel
perkalian. Gambar burung garuda pun tak punya, malah.
Sebagai sesama murid SD
Muhammadiyah, rasanya kami sadar sekali kedudukan sekolah kami dibanding di
antara sekolah-sekolah yang lain. Biasanya, baik di Palembang maupun di
Belitung, predikat sebagai sekolah favorit dipegang oleh sekolah-sekolah swasta
yang didukung penuh biayanya oleh institusi tertentu. Di Palembang waktu itu,
sekolah favorit jelas SD Xaverius I, II, III, dan IV yang didukung oleh Yayasan
Xaverius. Adapun di Belitung, sekolah favorit jelas SD PN Timah yang didukung
penuh biayanya oleh Perusahaan Negara (PN) Timah. Meski didukung oleh
Muhammadiyah, sekolah kami selalu serba kekurangan dan ini merupakan pengecualian.
Satu-satunya yang patut dibanggakan adalah cita-cita mulia dibalik pengadaan
sekolah-sekolah.
Bagaimana dengan
sekolah-sekolah negeri? Sekolah-sekolah negeri jelas disubsidi oleh pemerintah.
Meskipun begitu, kualitas pendidikan dan fasilitas sekolah-sekolah negeri
terlihat kurang. Selain gaji guru yang kecil, para calon guru lebih memilih
melamar di sekolah-sekolah swasta tadi. Di sana, selain gaji besar, profesi
sebagai guru benar-benar dihargai. Bukan bermaksud mengadili, tapi begitulah
keadaannya saat itu.
Ikal rasanya beruntung
sekali. Sekelas ia hanya berjumlah 10 orang. Meskipun jumlah guru di sekolahnya
sedikit, jumlah murid yang sedikit itu menjadikan ikatan batin antara guru
dengan murid lebih erat. Guru di sana berfungsi bukan hanya sebagai seorang
pengajar, tapi juga sebagai seorang sahabat, seorang mitra, yang menemani para
murid berjalan dalam dunia mereka.
Guru-guru Ikal akan
memberi jawab atas pertanyaan para murid bukan sebagai seorang dewasa yang
serba tahu, tapi sebagai seorang manusia yang sama-sama belajar. Dengan begitu,
apa yang terbaik bagi para murid tidak melulu ditentukan oleh para guru. Para
murid berhak memilih dan memutuskan, bukan atas paksaan para guru. Tentu saja,
bimbingan para guru juga perlu di sini. Misal saja, waktu akan diadakan acara
karnaval 17 Agustus antar sekolah di Belitung. Bagaimana bentuk dan isi
pertunjukan yang akan dibawakan dalam acara karnaval itu, Ikal dan
kawan-kawanlah yang menentukan dan merancangnya.
Berbeda dengan saya dan
teman-teman di Palembang. Di sekolah kami, karena ingin mengejar target yang
ditetapkan, para murid hanya menerima pilihan yang ada. Memang, kami pun diberi
kesempatan untuk memilih. Tapi, untuk memilih itu pun kami segan. Sebab sejak
pertama kali kami sekolah, kami ditanamkan bahwa pilihan para gurulah yang
benar. Sebab para guru adalah orang-orang dewasa yang serba tahu, berbeda
dengan kami yang masih anak-anak, yang belum tahu apa-apa.
Selain itu, karena
jumlah kami terbilang banyak (sekitar 25-30 orang), sedangkan jumlah guru
sedikit, maka seorang guru mesti memegang tanggung-jawab atas sejumlah itu.
Sudah tentu, dengan jumlah itu, prioritas paling utama adalah bagaimana semua
murid itu naik kelas, nilai-nilai memuaskan. Toh, bersekolah tak-lebih dan tak
bukan agar dapat meneruskan ke jenjang pendidikan di atasnya. Setelah itu, cari
kerja dengan penghasilan yang lumayan.
Apa yang kami pelajari
adalah apa yang sudah tertera dalam buku. Sedang menurut buku-buku yang kami
punyai itu, yang benar itu hanya satu. Tak ada kemungkinan-kemungkinan di luar
itu. Sebenarnya, kalau mau jujur, kemungkinan-kemungkinan yang dimaksud itu
ada, memang. Tapi, kemungkinan-kemungkinan itu baru dipelajari nanti ketika
sudah SMP atau SMA atau ketika sudah di perguruan tinggi. Jatah bagi kami, ya,
seperti apa yang ada dalam buku-buku kami itu.
Padahal, kami iri sekali
dengan Ikal dan teman-teman. Mereka di sana, meski serba kurang, mereka tak
dikekang naluri ingin tahu mereka. Ibu guru mereka, Bu Mus, membuka kesempatan
bagi siapa saja untuk berkembang. Akibatnya, apa yang mereka pelajari bukan
semata apa yang diberi di dalam kelas. Mereka belajar banyak dari kehidupan di
luar sekolah. Apa yang didapati, sekiranya membingungkan, baru ditanyakan pada
Bu Mus di kelas. Dan beliau tak segan-segan untuk menjelaskannya.
Lintang, salah satu
teman Ikal, bahkan karena ingin tahunya, sering membaca buku-buku Pak Harfan,
bapak kepala sekolah, ketika sedang membersihkan ruangannya. Pak Harfan jelas
tahu akan kelakuan muridnya ini. Tapi beliau membiarkannya, mungkin sekaligus
bangga. Hasilnya, Lintang dalam usia belia sudah memahami pokok-pokok pelajaran
ilmu pasti yang sedianya diberikan di tingkat SMP dan SMA. Tak masuk di akal,
memang. Tapi begitulah adanya.
Mereka sejak hari
pertama bersekolah telah ditanamkan oleh kepala sekolah sebuah prinsip, bahwa
“hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya, bukan untuk menerima
sebanyak-banyaknya.” Berbedalah dengan kami yang hari-hari pertama itu diisi
dengan pernyataan bahwa “lusa nanti jangan lupa bawa uang Rp. 300, 00 untuk
beli kertas huruf-hurufan agar kalian bisa cepat membaca...”
Hari ini, setelah kami
sama-sama dewasa, sudah rahasia umum bahwa pendidikan-dasar di Indonesia amat
menyedihkan. Naluri ingin tahu, naluri ekplorasi para murid dipasung begitu
saja pada usia dini. Akibatnya, sampai dewasa yang ada hanya menerima apa yang
sudah jadi.
Gejala ini ternyata
bukan semata-mata penilaian kami pribadi. Y.B. Mangunwijaya jauh-jauh hari
telah mengingatkan akan hal ini. Menurutnya, pendidikan menengah dan tinggi
boleh saja brengsek mutunya asalkan pendidikan dasar, pendidikan yang diberikan
di sekolah-sekolah dasar baik dan tak memasung daya eksplorasi si murid. Apa
yang diberikan pada usia dini itulah modal penting bagi seorang anak untuk
menjalani hidup selanjutnya.
Ikal dan teman-teman
beruntung mendapat pendidikan bermutu dari guru-guru mereka. Mendengar
ceritanya, saya jelas iri. Cara mendidik guru-guru mereka menyadarkan saya akan
ruang baru yang sering tak disentuh oleh banyak guru selama ini. Kedekatan,
ikatan batin yang dibangun antara guru dengan murid—itu kuncinya.[*]
--Rimbun Natamarga
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar