|
|
Judul: Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di NegeriBelanda (1600 – 1950)
Penulis:
Harry A. Poeze
Terbit
: Juni 2008
Penerbit:
Gramedia
Halaman:
417
Peresensi:
Siti Muyassarotul Hafidzoh
|
“Hidup yang tak dipertaruhkan, hidup
yang tak dimenangkan.” Ungkapan Bung Syahrir ini sangat tepat untuk membaca
hikayat orang Indonesia yang bertaruh di negeri perantauan: Belanda. Selama
tiga setengah abad Belanda di Indonesia, selama itu pula tersingkap kisah
inspiratif kaum pribumi yang mempertaruhkan diri di negeri penjajah. Kisah yang
akan menggambarkan hubungan Belanda dan Indonesia, penjajah dan yang dijajah,
hegemoni dan koloni, strategi dan siasat intimidasi, serta pengharapan akan
sebuah kebebasan di tengah penindasan. Pertaruhan benar-benar menjadi sebuah
narasi besar yang sedang dijalankan di tengah kegalauan dan kerisauan.
Sejarawan-Indonesianis, Harry A.
Poeze, mencoba menjawab sebuah kisah pengharapan kaum pribumi yang bertaruh di
Belanda selama tiga setengah abad (1600-1950). Pengharapan yang terkisah dalam
buku ini memang sangat dipertaruhkan, karena menurut Francious Goude (2007),
orang pribumi oleh Belanda distigma sebagai “monyet”. Sebuah simbol bangsa yang
tak berperadaban, jauh dari riuh modernitas, dan mudah dipecundangi. Simbolisasi
ini coba digugat kaum pribumi dengan bertaruh secara sungguh di negeri penjajah
sendiri.
Mengapa justru di negeri Belanda?
Karena dengan menjelajah Belanda, kaum pribumi bisa mengetahui secara detail
karakter kebudayaan dan corak peradaban negeri Belanda. Selain bisa belajar
untuk mengembangkan kapasitas, bisa juga digunakan sebagai basis gerakan dalam
membebaskan Indonesia dari cengkraman kolonialisasi Belanda. Inilah yang
dijelajah Poeze dengan memikat dalam bukunya ini.
Poeze mengisahkan bahwa pada awal
abad ke-17, untuk pertama kalinya Sultan Aceh mengirimkan tiga duta besar,
yakni Abdul Zamat, Laksamana Raja Seri Muhammad, dan kemenakannya Meras San,
yang kalau ditulis sekarang menjadi Abdul Hamid, Sri Muhammad, dan Mir Hasan.
Mereka menumpang kapal Zelaandia dan Langhe Barche diiringi lima orang pembantu
dan seorang juru bahasa, juga sejumlah pedagang Arab (hal. 3).
Perutusan Sultan Aceh tersebut tiba
di Aceh pada Juli 1602. Dari ketiganya, Sultan Aceh bisa mengetahui
perkembangan peradaban Barat, pola pergaulan masyarakat Eropa, dan bagaimana
Sultan Maurits menyembut perutusan tersebut. Perutusan juga berkunjung di
berbagai kota pusat peradaban Belanda. Dari gambaran itulah, Sultan Aceh bisa
mengetahui cara berdiplomasi dan bekerjasama dengan Belanda, agar tidak tertipu
dan terperdaya, walaupun dalam beberapa hal, Belanda masih mencederai kerjasama
dengan Sultan.
Kisah perutusan Aceh mengilhami
sebuah inspirasi untuk bertaruh di negeri Belanda. Menyusul kemudian para
pemuda Ambon yang diajak oleh De Houtman, yang ketika pulang mereka dijadikan
pengajar sekolah rakyat. Dari pemuda Ambon ini terkisah sebuah harapan bahwa
pergi ke negeri Belanda bisa membuka jendela pengetahuan yang lebih baik.
Inilah yang kemudian dijalakan Raden Saleh. Tahun 1829 Raden Saleh ikut
berlayar ke negeri Belanda sebagai Klerek Inspektur Keuangan De Linge. Selain
belajar melukis yang memang menjadi bakatnya, Raden Saleh juga belajar ihwal
pendidikan, pengajaran, juga nasionalisme dan kedaulatan sebuah bangsa.
Lukisan-lukisan Raden Saleh terlihat sekali bahwa dia ingin menentukan sendiri
siapa dan apa yang dilukisnya. Kebebasan dan kedaulatan diri dalam berkarya
sangat dipegang teguh olehnya. Poeze mencatat Raden saleh sebagai pelopor para
mahasiswa Indonesia yang sejak akhir abad ke-19 bertaruh ke negeri Belanda.
Pada tahun 1835, Raden Ngabehi
Poespa menyusul. Kemudian disusul Mas Ismangoen Danoe Winoto (orang pertama
kali yang menikmati pendidikan tinggi di Belanda), Raden Montajib Moeda (orang
yang menuliskan kisah perjalanan pertama tentang negeri Belanda), dan
Sasrokartono (ahli bahasa yang sangat mahir). Tibalah kemudian sosok dokter
yang juga wartawan, Abdul Rivai. Dialah orang Indonesia pertama yang dapat
menyebut dirinya ”doktor”, walaupun gelar yang diperoleh tanpa menulis
disertasi (hal. 56). Rivai datang ke Belanda pad tahun 1899, tahun penghujung
abad ke-19, dimana Belanda sedang memutus kebijakan politik etisnya.
Sosok Abdul Rivai menjadi istimewa
bagi para pelajar Indonesia, karena Rivai selain diakui sebagai dokter yang
cerdas dan tangkas, juga dikenal sebagai wartawan yang piawai dalam menulis
berbagai persoalan nasionalisme, kebangsaan, dan kenegaraan. Karya dari buah
tangannya tayang diberbagai majalah dan newsletter, baik di Melayu dan Belanda
sendiri. Jiwa kewartawanan menjadikan Rivai selalu hadir dengan ide-ide kreatif
yang bisa mengilhami lahirnya sebuah pergerakan kebangsaan bagi kaum pribumi.
Apalagi tulisannya dikenal sangat kritis terhadap kaum kolonial Belanda,
sehingga dia dicurigai, bahkan akhirnya dibenci Belanda yang gerak-gerik
politiknya mendapatkan pengawasan ketat.
Pada tahun 1908, Rivai dengan
teman-teman pelajarnya kaum pribumi mendirikan perkumpulan yang bernama
”Perhimpunan Kaum Muda” yang kemudian dikenal dengan Perhimpunan Hindia. Salah
satu tugas terpenting dalam perhimpunan, menurut Rivai, adalah memajukan
pengajaran dengan jalan melancarkan desakan kepada pemerintah, menerbitkan
buku-buku sekolah, dan membentuk dana-dana pendidikan (juga untuk belajar ke
Eropa). Dari sinilah, datang berduyun-duyun pelajar Indonesia yang belajar di
Belanda. Ada Noto Soeroto (sastrawan), Bung Hatta, Bung Syahrir, Ki Hadjar
Dewantara, Tjipti Mangoenkoesoemo, termasuk juga Tan Malaka yang banyak menulis
cacatan gugatan selama di negeri Belanda.
Semakin hari, jumlah pelajar dan
cendekiawan yang lahir dari negeri Belanda semakin besar. Mereka yang masih di
Belanda, pengharapan akan kebebasan mereka tuangkand an mereka perjuangkan di
Belanda. Semakin hebat, karena sekembalinya di Indonesia, mereka juga membentuk
persekutuan untuk membebaskan tanah airnya. Padahal, hal tersebut snagat tidak
dikehendaki oleh Belanda. Pada awalnya, Belanda ingin tetap menjadi “monyet”
yang bisa dibohongi yang dipekerjakan dengan seenaknya. Tetapi pencerahan yang
mereka dapatkan justru menjadi cambuk bagi Belanda.
Gerakan pengharapan akhirnya tiba
dalam susana kebebasan. Gerak-gerik kaum terpelajar sangat berpengaruh atas
kebebasan Indonesia dan juga atas terbentuknya Indonesia masa kini. Disinilah,
buku menjadi penting untuk membaca secara kritis gerak Indonesia masa depan.
[*]
Dimuat di Kompas.com, 6
September 2009
Sumber:
http://resensibuku.com/?p=362
http://resensibuku.com/?p=362
Tidak ada komentar:
Posting Komentar