|
|
Judul
buku: Resolusi Jihad Paling Syar’i
Penulis:
Gugun El-Guyanie
Penerbit:
Pustaka Pesantren Yogyakarta
Cetakan:
1, Oktober 2010
Tebal:
xiv + 128 halaman
Peresensi:
Siti Muyassarotul Hafidzoh
|
Setiap tanggal 22 Oktober, arek-arek
Surabaya tidak bisa lepas dari ingatan fakta sejarah ihwal resolusi jihad yang
terjadi 65 tahun silam, yakni 22 Oktober 1945. Resolusi jihad ini lahir 66 hari
pasca kemerdekaan dan 18 hari menjelang perang besar-besaran pada 10 November
1945. Resolusi jihad yang difatwakan para kiai di bawah komando KH Hasyim
Asy’ari ini dikarenakan penjajah masih belum mengakui kedaulatan Republik
Indonesia, sehingga ingin kembali menjajah dan berkuasa seperti sedia kala.
Buku bertajuk “Resolusi Jihad Paling
Syar’i” karya Gugun El-Guyanie ini mengulas gerak heroisme arek Suroboyo yang
teguh menegakkan kedaulatan NKRI. Sejarah mengabarkan bahwa heroisme arek
Suroboyo ini sebagai jihad yang menggelorkan semangat perjuangan anak bangsa
dalam mempertahankan kemerdekaan. Jenderal Soedirman makin membara
perjuangannya karena terlecut oleh heroisme yang dikobarkan arek Suroboyo.
Heroisme ini lahir tersebab
spirit nasionalisme para kiai. Dalam resolusi jihad ini, umat Islam wajib
mengangkat senjata melawan penjajah yang hendak kembali menjajah Indonesia,
kaum muslimin Indonesia dilarang untuk melakukan perjalanan haji dengan kapal Belanda,
dan bagi kaum Muslimin yang berjarak lingkaran 94 kilometer dari posisi musuh
wajib melakukan jihad. Kewajiban ini mengikat bagi setiap individu, alias
fardlu ‘ain. Sementara bagi yang berada di radius di luar 94 kilometer, hukum
jihadnya bersifat sekunder dan kolektif, atau biasa dikenal dengan istilah
fadlu kifayah.
Resolusi jihad inilah yang membakar
semangat nasionalisme arek-arek Surabaya dan sekitarnya untuk bertempur
habis-habisan. Atas restu Kiai Hasyim Asy’ari, Bung Tomo memimpin gelora
perjuangan arek Surabaya untuk menghadang Belanda dan sekutunya. Pecahlah
perang besar-besaran pada 10 November 1945. Perjuangan arek Surabaya kemudian
dikenal bangsa Indonesia sebagai Hari Pahlawan.
Resolusi jihad yang lahir di
Surabaya ini merupakan babakan perjuangan anak bangsa yang sedang berjuang
mempertahankan kedaualatan NKRI. Kemerdekaan yang diraih Indonesia pada 17
Agustus 1945 bukanlah kemerdekaan cuma-cuma, bukan pula hadiah dari Jepang atau
Belanda. Kemerdekaan Indonesia merupakan manifestasi atas perjuangan anak
bangsa yang mengobarkan seluruh jiwa-raganya demi tegaknya kedaualatan RI.
Jejak historis mengabarkan bahwa anak bangsa tidak rela dengan kehadiran
kembali Belanda yang hendak kembali berkuasa.
Resolusi jihad ini merupakan
sumbangan fatwa sangat berharga dari Surabaya untuk Indonesia. Perjuangan arek
Surabaya juga menjadi ilham perjuangan kaum santri dan bala tentara Indonesia
di berbagai penjuru Nusantara untuk menegakkan NKRI sampai detik terakhir.
Spirit arek Surabaya menjadi salah satu fondasi bangsa Indonesia membangun etos
perjuangan di tengah keterjepitan penjajahan. Etos arek-arek Surabaya yang
demikian dahsyat menjadi penanda krusial dalam jejak perjuangan Indonesia.
Kalau bangsa Indonesia secara formal
mengakui perjuangan arek Surabaya, sudah selayaknya arek Surabaya sendiri
menjadikan kisah heroik pendahulunya ini sebagai motivasi besar dalam
menumbuhkan etos nasionalisme membela NKRI. Berjuang menegakkan Indonesia yang
telah diteladankan pada pendahulu tidak boleh terlewat begitu saja dalam
lembaran sejarah, tetapi harus menjadi ‘monumen’ yang selalu menegakkan
semangat yang berkobar dalam melestarikan dan meneguhkan etos perjuangan
bangsa.
Jejak penuh makna yang terkandung
dalam resolusi jihad 22 Oktober 1945 perlu diterjemahkan lebih kontekstual oleh
anak jaman saat ini. Kalau saat itu perjuangan dengan menjadi kobaran yang luar
biasa, saatnya penerus perjuangan arek Surabaya harus bisa hadir dengan model
berbeda, tetapi dengan visi dan semangat berkobar yang tidak boleh kendur, bahkan
harus lebih besar dibandingkan pendahulunya. Nasionalisme membela Indonesia
jaman sekarang bisa diwujudkan dengan terus meningkatkan kreativitas dan karya
dalam membela saudara yang masih terbelakang, bodoh, dan dililit kemiskinan.
Itulah tantangan konkrit yang layak
dijawab untuk jaman ini. Di tengah euforia teknologi informasi yang demikian
canggih, saatnya arek Surabaya membuktikan jejak perjuangan masa lalu yang
masih aktual sampai sekarang dengan langkah konkret dalam menggerakkan
perubahan sosial di masyarakat. Jangan sampai saudara kita yang masih dililit
ketiga hal tersebut terus ditindas oleh rezim keserakahan yang maunya menang
sendiri. Keserakahan harus dilenyapkan dari bumi Surabaya, kemajuan selalu
ditunggu saudara-saudara yang masih berada di pinggir jalan, kolong jembatan,
dan tempat-tempat kumuh.
Sementara bagi para ulama’, kiai,
dan kaum santri, resolusi jihad yang dikomandoni Kiai Hasyim Asy’ari bukti
bukti nyata ihwal keharusan keterlibatan kaum santri dalam menumbuhkan
nasionalisme kebangsaan. Spirit Kiai Hasyim tidak mengajarkan kaum santri hanya
mengaji kitab kuning di pesantren, rajin shalat di masjid, dan wiridan di
musolla, apalagi mengeluarkan fakta yang tak ada ujungnya. Sang maha guru, Kiai
Hasyim tidak mengajarkan demikian. Tetapi mengajarkan kaum santri untuk terjun
langsung menjawab persoalan jamanhya dengan teguh dan ikhlas.
Etos perjuangan yang dipahatkan Kiai
Hasyim yang direkam dalam buku ini bukan pula mengajarkan kiai untuk sibuk dengan
politik kemudian lalai dengan santri dan umatnya. Tetapi tetap setia menemani
umat serta menjawab berbagai persoalan umat di tengah tantangan jaman yang
begitu berkecamuk.
Nasionalisme kebangsaan para kiai
dan arek Suroboyo dalam jejak resolusi jihad tetap tegak dengan begitu gagah
untuk menjaga kedaulatan NKRI. [*]
Dimuat di Kompas, 20 Januari 2011
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar