|
|
Judul Buku:
Hamengkubuwono IX
Penulis: K. Tino Penerbit: Navila Idea Cetakan: I, 2011 Tebal: 198 Halaman Peresensi: Romel Masykuri*) |
Peranan Hamangkubuwono IX dalam
Serangan Umum 1 Maret sudah banyak diketahui. Pun, perlawanannya terhadap
Suharto ketika menjadi Wakil Presiden sudah banyak diuraikan. Namun peranan
Hamangkobuwono IX sebagai agen CIA masih misteri, dan seringkali menjadi
desas-desus semata.
Konon ada tiga tokoh yang
disebut-sebut sebagai agen CIA untuk menghancurkan PKI. Mereka adalah Suharto,
Adam Malik dan Hamangkubuwono IX. Baik Suharto dan Adam Malik sudah banyak
dikupas oleh para ahli sejarah. Akan tetapi, buku yang mengupas keterlibatan
Hamangkubuwono IX masih belum ada.
Buku ini mencoba menelusuri semua
misteri dan desah-desus itu, mulai dari pengumpulan data-data yang membuktikan
tidaknya Hamangkubuwono IX sebagai agen resmi CIA. Kita akan terperangah dengan
penemuan-penemuan yang ada di dalamnya. Satu titik sejarah negeri ini akan
terurai dengan gamplang.
Pada bagian pertama buku ini
menceritkan tentang masa muda Hamangkubuwono IX dan posisi penting yang di
lakukan oleh Hamangkubuwono di masa awal kemerdekaan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI). SRI Sultan Hamangkubuwono IX lahir di Sompilan Ngasem,
Yogyakarta, 12 April 1912 dan meninggal di Washington, DC, Amerika Serikat, 2
Oktober 1988 pada umur 76 tahun. Ia adalah seorang raja yang pernah memimpin di
Kasultanan Yogyakarta dan Gubernur DIY. Tahun 1973-1978 ia pernah menjadi Wakil
Presiden Indonesia, lebih dari itu ia juga dikenal sebagai Bapak Pramuka
Indonesia, dan pernah menjabat sebagai Ketua kwartir Nasional Gerakan Pramuka.
Masa awal kemerdekaan Indonesia ia
merupakan tokoh yang cukup berperan dalam fase Indonesia berkembang dan upaya
menghapus puing-pung kolonialisme. Salah satu bukti sejarah yang tidak bisa di
lupakan adalah masa di mana awal kemerdekaan Indonesia ditandai dengan suasana
mencekam yang disebabkan keganasan NICA (Belanda). Pada bulan Oktober, November
dan Desember 1945, Jakarta menjadi ajang kekerasan dan teror sehingga
menyebabkan penduduk menutup pintu sejak senja hari. Tentara NICA melakukan
provokasi dan memancing insiden dimana-dimana sehingga ribuan warga tak berosa
menjadi korban.
Pada saat kondisi Ibu Kota Jakarta
sedang tidak aman dan penuh konflik, maka sultan HB IX meminta agar
Sukarno-Hatta dan seluruh pemimpin Republik pindah ke Yogyakarta, dengan pertimbangan
Belanda lewat NICA sudah membonceng Sekutu dan akan menjadikan Jakarta sebagai
pusat pertempuran. Dan memang betul prediksi dan nalar pemikiran HB IX tidak
meleset, garis Jakarta-Bandung merupakan pusat kekuatan militer NICA, apalagi
di Jakarta ada Batalyon X yang terkenal kejam. Akhirya, tanggal 3 Januari 1946
diambil keputusan untuk memindahkan pusat pemerintahan Indonesia ke Yogyakarta.
Saking baiknya Sultan demi pengorbanan bagi ibu pertiwi, seluruh pembiayaan
para Penggede RI ditanggung sepenuhnya oleh pihak kesultanan. Sungguh
pemimpin arif nan bijaksana.
Berbeda lagi peran HB IX pada masa
Orde Baru. Setelah keluarnya Surat Perintah 11 maret 1966 (Supersemer) yang
kemudian dikukuhkan oleh ketetapan MPRRS No. IX/MPRS/1966, maka Indonesia
memasuki zaman baru. Kepemimpinan Presiden Sukarno beralih ke triumvirat (Tiga
Serangkai) yakni Suharto, Adam Malik, dan Sultan HB IX yang kesemuanya pro
Amerika. Kepemimpinan mereka menghadapi berbagai permasalahan yang berat,
khsusnya di bidang ekonomi. Angka inflasi sudah mencapai 600 persen dan sudah
mengarah pada Hiper-inflasi.
Kemerosotan ekonomi Indonesia
tersebut disebabkan pengelolaan ekonomi yang kurang berhasil, seperti tidak ada
kemantapan hasil ekspor dan adanya fluktuasi harga di pasaran bagi bahan mentah
Indonesia serta seretnya pemasukan pajak. Selain itu, Indonesia harus membayar
utang luar negeri sebesar 2,6 miliyar doalr Amerika (termasuk utang warisan
Belanda dari tahun 1896-1949). Disinilah peran Sultan HB IX berperan pada saat
Indonesia berada dalam ke krisisisan. Sebagai Menteri Koordinator Ekonomi,
Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) Kabinet Ampera, Sultan HB IX telah
meletakkan rumusan dasar bagi program rehabilitasi dan stabilitasi Orde Baru
dalam bidang ekonomi, moneter dan infrastruktur.
Program kerja yang dilakukan oleh
Sultanpun mulai terasa dan memberikan pemulihan bagi Orde baru secara
perlahan-lahan, mulai dari kembalinya kepercayaan luar negeri terhadap
Indonesia, mengatur kembali perrundingan dengan negara pemberi pinjaman di masa
lalu guna mengatur jadwal pembayarannya. Dalam usaha ini, HB IX juga bertindak
aktif dengan mengadakan perjalanan ke mana-mana, seperti menghadiri pertemuan
luar negeri yang orientasinya untuk menarik penanaman odal asing dan investasi
di Indonesia.
Berbagi rintisan perbaikan ekonomi
pada masa awal Orde baru (1966-1968) di mana Sultan HB IX memegang peranan
utama telah banyak membuahkan hasil. Bantuan dari luar negeri mengalir dari
berbagai penjuru dalam bentuk bantuan kredit devisa, bantuan pangan, bantuan
teknik dan proyek dan melaksanakan pembangunan di Indonesia. Namun di balik
keberhasilan Sultan HB IX dalam menarik modal asing juga memicu eksploitasi
sumber daya alam Indonesia oleh perusahaan-perusahaan multi-nasional yanng dikendalikan
oleh Amerika. Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah
terbesar’, kemudian hasil tangkapannya dibagi. The Time Life Corporation
mensponsori konfrensi istimiwa di Jenawa yang dalam waktu tiga hari
merancang pengambil alihan Indonesia. Para pesertanya meliputi kapitalis yang
paling berkuasa di dunia, orang-orang seperti david Rockefeller.
Singkat kata, buku ini telah
berhasil menberikan fakta-fakta sejarah langka tentang peran penting Sri Sultan
Hamangkubuwono IX dalam pemerintahan Indonesia masa awal kemerdekaan, Orde Lama
dan Orde Baru, baik perannya di wilayah ekonomi, politik dan kemasyarakatan.
[*]
*) Romel Masykuri, Kader Muda
Ashram Bangsa Jogjakarta
Sumber:
Kompas, 18 Juni 2011

Tidak ada komentar:
Posting Komentar