|
|
Judul: Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari;
Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan
Penulis: Zuhairi Misrawi Penerbit: Kompas Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: xxx+374 hlm |
Pemikiran Hadratussyaikh Muhammad
Hasyim Asy’ari atau lebih akrab dipanggil Kiai Hasyim merupakan representasi
dari kondisi dialogis agama dengan tradisi dan budaya. Islam bukan hanya
berkutat pada kesalehan ritualistik semata, tetapi lebih jauh sebagai sarana
pemecah jalan buntu berbagai anomi sosial.
Sosok kiai asal Jombang dan peletak
dasar Nahdlatul Ulama ini merupakan ulama yang mempunyai diskursus perjuangan
yang interdisipliner. Baginya, ulama bukan hanya menjadi ”penjaga malam” umat
lewat ajaran yang berkutat pada halal-haram, seperti kebanyakan ulama zaman
sekarang. Menurut dia, ulama adalah mereka yang mampu menyintesiskan
perjuangannya pada konteks sosial. Ulama bukan hanya memimpin umat, tetapi juga
memberdayakan dan memberikan pencerahan kepada umat.
Buku Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari:
Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan tidak hanya mengetengahkan sejarah hidup
Kiai Hasyim, tetapi juga pemikiran dan kisah-kisah menarik yang menjadi oral
history dari masa ke masa. Melihat kondisi dewasa ini, rasanya sulit mencari
pengganti Kiai Hasyim. Baginya, tarekat untuk dekat dengan Tuhan tidak melulu
menggunakan ibadah mahdh. Tarekat sebenarnya adalah menciptakan masyarakat yang
damai, sejahtera, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
Perjuangan dan moderasi
Yang menjadi pokok pemikiran Kiai Hasyim
adalah bulir-bulir moderasi Islam yang dibingkai dengan kearifan lokal. Said
Aqil Siradj (2009) memandang, ada sesuatu yang menarik dalam kubah pemikiran
Kiai Hasyim. Pengetahuan agama yang didapat di Mekkah tidak serta-merta
menjadikan Kiai Hasyim mengusung paham Wahabi yang cenderung puritan dalam
beragama dan menolak berbagai tradisi lokal.
Salah satu tindakan moderatif Kiai
Hasyim ditunjukkan ketika menerima kemajemukan sebagai realitas sosial-budaya
dan sosial-politik bangsa ini. Sejatinya, dengan menerima kemajemukan, berarti
mengakui bahwa negeri ini terdiri dari entitas-entitas agama, kesukuan, dan
tradisi yang diferensiatif. Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin,
tidak hanya memberikan pencerahan bagi umatnya, lebih luas, juga menumbuhkan
zeitgeist (semangat zaman) bagi segenap masyarakat Nusantara.
Kiai Hasyim menitikberatkan
perhatiannya pada dunia pendidikan. Perjuangannya makin menguat setelah
mendirikan Pesantren Tebuireng. Tak bisa dimungkiri, pesantren ini merupakan
salah satu mahakarya Kiai Hasyim. Di lembaga pendidikan ini, Kiai Hasyim
mencetak santri-santri yang siap berjuang dan berkarya di tengah masyarakat.
Dalam mengajar, komitmen akan pentingnya kemandirian dan kepemimpinan sangat
besar. Hal ini dibuktikan Kiai Hasyim dengan terlibat secara aktif dalam
kegiatan koperasi, sebagai sarana perangsang ekonomi kerakyatan.
Kiai Hasyim bukanlah ahli agama yang
hanya menyandarkan segala gerakan dan pemikirannya harus sesuai dengan dalil
keagamaan. Dia juga menerima segala unsur baru di luar bingkai hukum agama yang
positif, yang semakin memperkaya pilihan-pilihan akan instrumen perjuangan,
baik itu yang sifatnya perjuangan fisik maupun perjuangan atas kebodohan.
Hal ini tecermin ketika menerima
pengajaran bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang merupakan inisiatif dari
putranya, KH Abdul Wahid, yang merupakan ayah dari mendiang Gus Dur. Tindakan
ini sesuai dengan kaidah fiqih yang berbunyi: al-muhafazah ‘ala qadimi
ash-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.
Kiai Hasyim juga mampu memecah
stigmatisasi hitam yang mengatakan, ulama pesantren adalah mayoritas diam
(silent majority). Baginya, ideologi Islam harus mampu ikut serta dalam
membangun kehidupan bernegara. Golongan pesantren, walaupun berjuang dalam ranah
kultural dan terkesan berada dalam kabut, tetaplah merupakan kekuatan
masyarakat. Perjuangan bukan hanya mengangkat senjata, tetapi juga mampu
menciptakan, meminjam istilah Habermas, budaya komunikatif.
Budaya komunikatif mensyaratkan
adanya dialog khusus antara penguasa dan rakyatnya. Dalam konteks perjuangan
Indonesia pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan, budaya komunikatif menjadi
ajang elaborasi para kiai dengan para elite nasionalis yang banyak bernegosiasi
dengan pihak penjajah.
Dalam menciptakan budaya komunikasi
yang baik, tentu disyaratkan penguasaan ilmu dan kepribadian yang dewasa. Nah,
NU yang berposisi sebagai corong masyarakat akar rumput mempunyai kelebihan
dalam hal ini. Prinsip moderasi yang dianut NU mampu menembus batas setiap perbedaan
kesukuan. Terbukti, gerakan NU mampu melebarkan sayapnya ke seantero Nusantara
dan menjadikan organisasi ini sebagai organisasi Islam terbesar di dunia saat
ini.
Secara umum, NU mempunyai sebuah
paradigma pemikiran yang dirumuskan dalam lima hal. Pertama, pola pikir
moderat, artinya NU senantiasa bersikap seimbang dan moderat dalam menyikapi
berbagai persoalan. NU tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kiri. Kedua,
pola pikir toleran, artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan
pihak lain meskipun akidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.
Ketiga, pola pikir reformatif,
artinya NU senantiasa mengupayakan perbaikan menuju arah yang lebih baik.
Keempat, pola pikir dinamis, artinya NU senantiasa melakukan kontekstualisasi
dalam merespons berbagai persoalan. Kelima, pola pikir metodologis, artinya NU
senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu pada manhaj yang telah
ditetapkan oleh NU.
Komprehensif
Penyajian buku ini sangat
komprehensif karena tidak hanya mengedepankan historisitas Kiai Hasyim, tetapi
juga ajaran Islam moderatnya. Penulis menambahkan berbagai muatan yang
memperkaya pemahaman keagamaan lewat mutiara-mutiara yang diperas langsung dari
kitab karangan Kiai Hasyim, seperti ajaran tentang pentingnya menjaga tali
persaudaraan yang disarikan dari kitab at-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqhata’atil
Arham wal Aqarib wal Ikhwan (hal 238).
Menurut Kiai Hasyim, bahwa seorang
Muslim sejatinya harus membangun persaudaraan yang tulus. Jika ada hal-hal yang
dapat menghambat persaudaraan, sejatinya bisa dihindari dengan cara membangun
komunikasi persahabatan.
Begitu pula muatan
reflektif-edukatif sangat menonjol dalam karya ini. Para pembaca tidak hanya
diajak bernostalgia dalam alur tutur perjuangan Kiai Hasyim. Tetapi, kekuatan
dari buku ini adalah refleksi keagamaan yang diembuskan lewat kaidah-kaidah
fiqih yang menghiasi hampir setiap halaman.
Kelemahan buku ini terletak pada
pembahasan tentang pemikiran Hadratussyaikh yang terlampau singkat. Misalnya,
pembahasan paradigma Ahlussunnah wal Jamaah yang semestinya dapat dibedah
secara lebih detail, terutama apa yang membedakan antara NU dan
kelompok-kelompok Muslim lain. Apalagi di tengah pasar pemikiran yang
menyajikan paham Ahlussunnah wal Jamaah pula sehingga terasa sulit untuk
membedakan antara versi NU dan non-NU. [*]
Sumber:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar