|
|
Judul: Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari;
Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan
Penulis: Zuhairi Misrawi Penerbit: Kompas Cetakan: I, Januari 2010 Tebal: xxx+374 hlm |
Bagi bangsa Indonesia, nama KH
Muhammad Hasyim Asy’ari, atau yang lebih akrab disebut Kyai Hasyim, tokoh
nasional sekaligus salah satu tokoh pendiri Jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU),
sudah tidak asing lagi terdengar. Apalagi, di kalangan para Kyai tradisionalis,
masyarakat pesantren, dan warga NU. Sumbangsih pemikiran keagamaan dan
kebangsaan serta aksi perjuangannya di zaman penjajahan Belanda tidak diragukan
lagi. Penghargaan yang diberikan oleh Presiden Soekarno terhadapnya sebagai
pahlawan nasional sudah cukup membuktikan seorang Kyai Hasyim sebagai pejuang
sejati.
Buku berjudul Hadratussyaikh Hasyim
Asy’ari; Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan, karya Zuhairi Misrawi, salah satu
intelektual muda NU, mengulas secara cukup komprehensif sosok Kyai Hasyim dari
sisi pemikirannya yang moderat, serta komitmennya terhadap keumatan dan
kebangsaan. Sosok Kyai kharismatik dan asketis yang merasa dirinya tetap
sebagai bagian dari umat (Islam) sekaligus sebagai bagian dari anak bangsa
Indonesia. Berjuang melalui pemikiran keagamaan di lingkungan pesantren dan masyarakat
pedesaan serta melakukan aksi nyata mengangkat senjata melawan penjajah demi
membela tanah air Indonesia.
Kajian atas pemikiran Kyai Hasyim
dalam buku ini bersumber dari empat karya Kyai Hasyim, yaitu: (1) Risalah Ahlis
Sunnah wal Jama’ah fi Haditsil Mauta wa Asyratis Sa’ah wa Bayan Mafhumis Sunnah
wal Bid’ah; (2) An-Nurul Mubin fi Mahabbati Sayyidil Mursalin; (3) Adabul ‘Alim
wal Muta’allim fi Ma Yahtaju Ilaihil Muta’allim fi Ahwali Ta’allumihi wa Ma
Yatawaqqafu ‘alaihil Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi; (4) At-Tibyan fi
Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan.
Komitmen keumatan Kyai Hasyim
tunjukkan dengan perhatiannya yang begitu serius terhadap masalah-masalah yang
muncul di masyarakat. Pada tahun 1919, misalnya, saat muncul ide tentang koperasi,
Kyai Hasyim sangat antusias menyambut ide tersebut guna meningkatkan
perekonomian umat. Ia mencoba menyintesiskan antara sistem ekonomi dan
nilai-nilai yang terdapat di dalam kitab-kitab kuning (istilah kitab berbahasa
Arab yang lazim dikaji di dunia pesantren tradisional). Kyai Hasyim kemudian
mendirikan lembaga perekonomian sederhana yang menyerupai koperasi yang dikenal
dengan nama Syirkatul ‘Inan li Murabathati Ahlit Tujjar.
Komitmen keumatan lain yang Kyai
Hasyim tunjukkan adalah kepeduliannya terhadap pendidikan kaum perempuan. Tidak
seperti ulama lain pada saat itu yang kurang begitu peduli pada hal ini. Malah,
banyak Kyai yang menentang pandangan Kyai Hasyim soal ini. Namun, ia berhasil
meyakinkan para Kyai mengenai pentingnya pendidikan terhadap kaum perempuan. Ia
malah mendorong upaya pemberdayaan kaum perempuan guna meningkatkan kualitas
keilmuan mereka dan peran mereka tidak hanya di lingkup ruang privat (keluarga,
rumah tangga) tetapi juga di lingkup ruang publik yang lebih luas.
Komitmen kebangsaan Kyai Hasyim,
misalnya, ditunjukkan dengan sikap tegasnya menentang segala macam bentuk
penjajahan asing terhadap tanah air Indonesia. Pada masa kolonialisme, ia
mengimbau segenap umat Islam untuk tidak melakukan donor darah kepada Belanda.
Ia juga melarang para ulama mendukung Belanda dalam pertempuran melawan Jepang.
Haram hukumnya berkongsi dengan penjajah, karena penjajahan dalam bentuk apa
pun tidak dibenarkan Islam. Membela Belanda dalam perang melawan Jepang tidak
termasuk jihad. Ia justru mendorong terciptanya kemerdekaan yang dikenal dengan
nama “Indonesia Berparlemen”.
Selama masa penjajahan, Kyai Hasyim
selalu berada di garis depan dalam rangka menentang segala macam penindasan
yang dilakukan oleh para kaum penjajah. Salah satu perannya yang sangat populer
adalah tatkala ia mengeluarkan fatwa perlawanan terhadap Belanda. Fatwa itu
terdiri dari tiga hal: pertama, perang melawan Belanda adalah jihad yang wajib
dan mengikat dilaksanakan oleh seluruh umat Islam Indonesia. Kedua, kaum Muslimin
dilarang menggunakan kapal Belanda selama menunaikan ibadah haji ke Mekkah.
Ketiga, kaum Muslimin dilarang menggunakan pakaian atau atribut yang menyerupai
penjajah. Fatwa jihad kebangsaan ini cukup efektif menyuntik spirit perjuangan
rakyat melawan penjajah.
Saat Belanda ditaklukkan Jepang
tahun 1942, Jepang ternyata melanjutkan kebiadaban yang dilakukan oleh Belanda.
Penentangan yang sama pun dilakukan oleh Kyai Hasyim seperti yang ia lakukan
terhadap Belanda. Dikisahkan, Kyai Hasyim secara tegas menolak perintah Jepang
untuk melakukan saikerei, yaitu kewajiban untuk memberikan penghormatan dengan
cara membungkukkan badan ke arah Tokyo setiap pukul 07.00 sebagai simbol
penghormatan kepada Kaisar Hirohito dan ketundukan pada Dewa Matahari. Sikap
itu membuat Jepang kebakaran jenggot dan segera menangkap Kyai Hasyim, lalu
menjebloskannya ke penjara. Akhirnya, pada 18 Agustus 1945, Kyai Hasyim
dibebaskan setelah empat bulan mendekam di sana.
Pemikiran moderat Kyai Hasyim,
misalnya, ditunjukkan dengan afiliasinya pada paham Ahlus Sunnah wal Jamaah
(Aswaja). Yakni, paham yang mengikuti tradisi ulama-ulama saleh di masa lalu
(Salafus Saleh). Secara spesifik, Kyai Hasyim memandang karakter Aswaja untuk
konteks Muslim Jawa, yakni dalam fikih berpegang pada Imam Syafi’i; dalam
akidah bermazhab pada Imam Abul Hasan al-Asy’ari; sementara dalam tasauf
bermazhab pada Imam Ghazali dan Imam Abul Hasan Syadzili. Meski begitu, Kyai
Hasyim tidak menganggap bahwa pandangannya yang paling benar. Ia mengakui
kemajemukan kelompok dalam lingkungan Islam. Ia juga memandang bahwa empat
mazhab fikih, yakni mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali, masuk dalam
paham Aswaja. Siapa pun yang ikut salah satu mazhab itu adalah berpaham Aswaja.
Buku ini merupakan buku pertama yang
mengulas pemikiran sosok Kyai Hasyim melalui beberapa karyanya langsung. Buku
ini membuktikan bahwa sosok Kyai Hasyim yang dikenal tradisionalis ternyata
memiliki pemikiran yang sangat moderat, bahkan sangat progresif dan
revolusioner. Pemikiran-pemikiran keumatan dan kebangsaannya sangat visioner.
Sosok Kyai yang menginspirasi dan menggugah para Kyai sekarang, di lingkungan
NU khususnya, untuk tetap komitmen pada perannya sebagai bagian dari umat dan
bangsa sekaligus yang memberikan sumbangsih nyata, baik dalam pemikiran maupun
aksi sosial serta integrasi bangsa. [*]
*) Fajar Kurnianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar