|
|
Judul buku: Gus
Mus; Satu Rumah, Seribu Pintu
Penulis: Taufiq Ismail dkk Penerbit: LKiS dan Fak. Adab UIN Yogyakarta Cetakan: 1, Mei 2009 Tebal: 290 halaman Peresendi: Muhammadun AS*) |
Baru saja KH Musthofa Bisri, yang
akrab dipanggil Gus Mus, mendapatkan gelar kehormatan berupa Doktor Honoris
Causa bidang Peradaban Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 30 Mei 2009.
Suasana begitu riuh begitu Gus Mus naik podium menyampaikan pidatonya di
hadapan civitas akademika UIN Sunan Kalijaga. Tidak hanya kaum akademikus yang
datang, tetapi juga para seniman, budayawan, politisi, dan tentunya para
santrinya dan kaum santri yang kagum karya dan pemikiran kiai-penyair ini.
Suasana riuh semakin menggema
tatkala malam harinya Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Amin Abdullah, yang
dikenal serius dan teoritikus, menjadi sosok periang, penuh canda tawa, dan
humoris, terlebih ketika ikut serta membaca puisi bersama Gus Mus dan Emha Cak
Nun. Pastilah ini suasana yang misterius bagi kaum akademikus. Karena setiap
kali acara wisuda pastilah menghadirkan wajah yang resmi. Kehadiran Gus Mus
menjadikan kaum akademikus menjadi santai dan membaur satu dengan yang lain.
Dunia Gus Mus memang dunia misterius.
Inilah yang terekam dari berbagai kisah dan tanggapan para tokoh dalam buku
bertajuk “Gus Mus; Satu Rumah, Seribu Pintu”. Buku yang memang
dipersiapkan acara penganugrahan Dr. HC memang banyak mengupas sisi misterius
dalam diri Gus Rembang ini. Setiap kesan yang meluncur dari pena para kawan
karibnya selalu menghadirkan misteri baru yang belum terungkap. Satu persatu
dari penulis membawa misteri dari Gus Mus.
Mengawali sisi misterius Gus Mus
adalah M Imam Aziz yang menjadi pengantar buku ini. Mas Imam, pangggilan
akrabnya, secara blak-blakan menjuluki Gus Mus sebagai sosok misterius. Sejak
awal pembuka tulisan sampai merampungkan tulisannya, bagi Mas Imam, Gus Mus
adalah misteri yang yang bergelayut dalam dirinya sampai sekarang. Khususnya
melihat kepribadiannya yang kompleks dan sepak terjangnya dalam pergolakan di
tubuh Nahdlatul Ulama’ (NU), Gus Mus dinilai sebagai sosok misterius.
Gerak-geriknya kadang blak-blakan, frantal, tanpa tedeng, tetapi kadang juga
“diam”, membisu, sukar ditafsirkan.
Dalam dunia tulis, Slamet Efendy
Yusuf melihat sosok Gus Mus sebagaia misteri juga. Waktu itu, Slamet masih
aktif di Majalah Arena IAIN Sunan Kalijaga. Ada yang mengirim cerpen,
pengirimnya adalah M. Ustov Abisri. Dengan nama samaran (yang plesetan) ini,
Gus Mus ingin membangun misteri dalam diri karyanya.
Misteriusitas Gus Mus juga terbaca
dari tulisan-tulisan Acep Zamzam Noor, D Zawawi Imron, Ahmad Thohari, Syu’bah
Asa, Jamal D Rahman, dan sebagainya. Dunia Gus Mus di pesantren yang dikenal
khusyu’ dan tawadu’ sangatlah berbeda dengan dunia Gus Mus di luar pesantren,
dimana beliau bisa bergerak dengan eklektik dan fleksibel dalam berbagai jala
kehidupan.
Cak Nun menjuluki Gus Mus bisa
menjadi air zamzam di tengah comberan. Yang dimaksud Cak Nun adalah Gus Mus mampu
menjadi mata air yang sejuk dan menenangkan ketika dia harus aktif dalam
gelanggang hidup yang pongah dan jengah. Air zamzam Gus Mus selalu hadir dalam
setiap sepak terjang hidupnya. Walaupun kadang misterius yang dilakukan, tetap
saja publik menerimanya sebagai mata air yang menentramkan, karena Gus Mus
mampu menjadi ruh penyejuk yang ditunggu-tunggu pengagumnya.
Menurut Syu’bah Asa, Gus Mus bisa
menerapkan pergaulan keislaman yang stel kendo. Islam yang ditampilkan selalu
santai, sejuk, nyaman, dan menetramkan. Bervisi inklusif, toleran, dan
harmonis. Gus Mus tidak menghendaki Islam yang stel kenceng. Islam yang
dipraktekkan dengan amarah, otoriter, dan penuh intimidasi. Karena menekuni
gaya ber-Islam yang stel kendo, Gus Mus selalu bisa diterima semua pihak.
Termasuk dalam berbagai konflik di lingkungan NU dan lingkungan kiai, Gus Mus
selalu ditempatkan sebagai penengah yang bijak.
Sementara di mata kaum akademikus,
Gus Mus dinilai sukses mencipta karya tulisan dan karya kiprah di masyarakat
yang sejuk, harmonis, dan toleran. Karya karya Gus Mus begitu dekat dengan
spiritualitas, khususnya dekat dengan spiritualitas pesantren. Bukan sekedar
spiritualis, tetapi Gus Mus juga menghadirkan kritik sosial yang berani dan
menggugat. Inilah analisis yang disajikan Abdul Wachid BS, Aning Ayu
Kusumawati, dan Maman S Mahayana.
Terlepas dari itu semua, bagi
keluarga dan santrinya, Gus Mus adalah sosok kepala rumah tangga dan kiai yang
sejuk dan demokratis. Putra-putrinya diberikan kebebasan menentukan pilihan
hidup yang akan dijalani. Sekolah tidak harus di pesantren, boleh di sekolah
umum. Terbukti anak pertamanya, Ienes Tsuroyya memilih sekolah SMA di Semarang,
dan Gus Mus mengizinkan. Dalam memilih jodoh pun, Gus Mus mengembalikan kepada
putra-putrinya.
Sementara sebagai kiai, Gus Mus
sangat demokratis, tetapi sangat teguh memegang prinsip dan nilai
kepesantrenan. Yahya C Tsaquf mengkisahkan bahwa ketika mau meminta bantuan
kepada pejabat negara dan meminta tanda tangan sang paman, Gus Mus marah-marah.
Gus Mus tidak ingin membangun pesantren dari dana-dana siluman yang tak jelas
jalurnya. Sang ayah (KH Bisri Musthofa) dan sang kakak (KH Kholil Bisri) tidak
mengajarkan demikian.
Segala pernak-pernik hidup yang
melekat dalam diri Gus Mus, memang terus menjelma misteri. Karena ibarat rumah,
tulis Hamdy Salad, Gus Mus memiliki seribu pintu. Setiap orang bisa masuk dan
keluar dari mana saja yang disuka.[*]
*) Pengagum Gus Mus, alumnus PP
Sunan Ampel Jombang
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar