|
|
Judul
Buku: Kolecer dan Hari Raya Hantu
(20 Cerpen Kearifan Lokal)
Pengarang:
Benny Arnas, dkk.
Penerbit:
Selasar Pena Talenta
Terbit:
Juli 2010
|
Buku ini berisi 20 cerita pendek
yang ditulis oleh 11 orang pengarang dengan beragam latar kebudayaan dan daerah
yang masing-masing cerita memuat setidaknya sebuah nilai tradisional yang
kemudian mengantarkan pembaca untuk menikmati dan mengambil pengertian terhadap
nilai tersebut.
Benny Arnas dalam tiga cerpennya
memuat; pandangan (mempunyai) anak lelaki lebih baik daripada anak perempuan,
ilmu santet khas Sumatera Selatan, dan Seni Bertutur yang sudah lama hilang.
Cesilia Cess memuat beberapa tradisi Bali dan Batak semacam Ngaben, dan
Mangulosi.
Hanna Fransisca dalam dua cerpennya
(Sembayang Makan Malam dan Hari Raya Hantu) memuat definisi kebahagiaan dan
pandangan tentang menghormati (arwah) leluhur dalam kaitannya untuk
meningkatkan kehidupan orang Singkawang. Secara umum, apa dan bagaimana cerpen-cerpen
itu ditulis serta nilai-nilai tradisional yang terkandung telah diungkapkan
dalam ”prolog” yang ditulis oleh Free Hearty. pengamat budaya yang juga dosen
Uninversitas Al-Azhar Jakarta ini, di awal buku ”Kolecer dan Hari Raya Hantu:
20 Cerita Pendek Kearifan Lokal.”
Kearifan Lokal dan Ciri Lokalitas
Kearifan lokal menurut Prof.
Chatcharee Naritoom dari Universitas Kasetsart, Thailand adalah pengetahuan
yang ditemukan atau dikemukakan oleh masyarakat tradisional melalui akumulasi
pengalaman uji-coba dan terintegrasi dengan pemahaman lingkungan (baik alam
maupun budaya) yang ada di sekelilingnya. Selanjutnya, kearifan lokal dapat
ditarik ke lingkungan yang lebih luas – dalam hal ini masyarakat global –
meskipun awalnya hanya bersifat lokal. Lebih lanjut lagi, menurut Prof
Chatcharee Naritoom, kearifan lokal yang memadai dan sesuai akan mempunyai
keuntungan untuk mendapatkan penghasilan, mengurangi biaya, serta meningkatkan
efisiensi produksi, dan pada akhirnya meningkatkan kualitas hidup.
Secara umum, kearifan lokal (dalam
situs Departemen Sosial RI) dianggap pandangan hidup dan ilmu pengetahuan serta
berbagai strategi kehidupan yang berwujud aktivitas yang dilakukan oleh
masyarakat lokal dalam menjawab berbagai masalah dalam pemenuhan kebutuhan
mereka. Dengan pengertian-pengertian tersebut, kearifan lokal bukan sekedar
nilai tradisi atau ciri lokalitas semata melainkan nilai tradisi yang mempunyai
daya-guna untuk untuk mewujudkan harapan atau nilai-nilai kemapanan yang juga
secara universal yang didamba-damba oleh manusia. Seperti dalam kata sagangan
dari Prof. Riris K. Toha –Sarmpaet bahwa manusia secara umum mendambakan
kebahagiaan, maka kearifan lokal bisa dikatakan langkah pertama yang harus
dilakukan untuk menggapainya.
Memang benar bahwa 20 cerpen dalam
buku ini mengandung nilai atau ciri khas lokal, tetapi tidak semuanya berhasil
menunjukkan kearifan lokal atau sering juga disebut sebagai local genius yang
diinginkan dalam sampul bukunya. Kebanyakan terjebak dalam pengertian ciri khas
lokal yang malah alih-alih menunjukkan keunggulan malah – dalam pengertian
global – menghambat kebahagiaan yang diharap. Contohnya pada cerpen ”Anak Ibu
yang Kembali” karya Benny Arnas, di sana pandangan punya anak lelaki
lebih baik daripada punya anak perempuan itu tidak dapat digolongkan dalam
kearifan lokal karena toh memang tidak mampu menjawab pertanyaan zaman. Kini,
di kota-kota besar, para orang tua lebih suka menginvestasikan hartanya untuk
di masa tuanya nanti hidup leha-leha di rumah jompo elit tanpa memikirkan
kehidupan anak-anaknya. Demikian pula dengan cerpen Hari Pasar karya
Nenden Lilis yang bercerita tentang kehidupan seorang pedagang di sebuah pasar
yang punya banyak anak dan harus berhutang sana-sini untuk kehidupannya
sehari-hari termasuk untuk modal usahanya. Kehidupan semacam ini adalah
gambaran yang nyata yang ada di sekitar kita, dan kearifan yang ada di sana
adalah kearifan universal di mana meskipun miskin, tetapi pasangan orang tua di
dalam cerpen itu mati-matian menyuruh anak-anaknya tetap sekolah.
Beberapa cerpen seperti Lali
Panggora, Menunggu Matahari, Pastu, Baminantu, Tujuh, Antara Bali-Balige,
bahkan Kolecer (yang dijadikan judul) semakin mempertegas bahwa kumpulan cerpen
ini lebih tepat digolongkan pada cerpen-cerpen dengan nilai lokalitas atau ciri
khas lokal.
Beberapa Kearifan Lokal yang Ada
Pandangan untuk menyublimkan
peristiwa dengan peristiwa lain, adalah salah satu ciri kearifan lokal.
Contohnya di Desa Bihar, India. Di sana setiap melahirkan anak perempuan, orang
tua diwajibkan menanam 10 bibit pohon buah. Dengan demikian, selalu ada panen
buah-buahan yang bisa dinikmati baik secara utuh maupun dijual bagi masyarakat
desa. Bagi orang Dayak, areal makam leluhur adalah daerah yang tidak boleh
diupayakan lahannya. Dengan demikian, secara tidak langsung, orang-orang Dayak
berhasil melakukan konservasi baik vegetasi maupun fauna yang ada di lingkungan
tersebut. Hal semacam ini secara implisit dilakukan oleh Hanna Fransisca,
Gunawan Maryanto, dan Sutan Iwan Soekry Munaf lewat cerpen-cerpennya.
Sembayang Makan Malam menceritakan
bagaimana nilai-nilai yang terkandung dalam tata cara hidangan Malam Tahun
Baru, memang agak berbau tahayul, tetapi di sana ada harapan-harapan yang
jelas. Demikian juga dengan tradisi ”membakar uang sembayang” dalam cerpen Hari
Raya Hantu. Dalam Cerpen ”Sarpakenaka” peristiwa pembunuhan anggota-anggota
kelompok partisan PKI dikelindankan dengan cara menyungging wayang pada kulit
tubuh manusia! Dan tak kalah tragis, orang-orang albino pun disulap menjadi
bayi-bayi raksasa dalam cerpen ” Pak Gubernur Belum Mendengar Cerita Ini.”
Inilah yang khas dari kearifan lokal Indonesia pada umumnya. Menyamarkan
sesuatu hal dengan hal yang lain. Contohlah ”pamali” bagi masyarakat Sunda.
Biasanya ada sesuatu yang sangat logis di balik anjuran / larangan itu.
Lissoi
Di bagian akhir, terdapat satu
tulisan yang disebut Epilog dengan judul Lissoi. Dituliskan bahwa Lissoi adalah
lagu buatan Nahum Situmorang yang telah mendunia. Sepertinya, inilah harapan
yang sebenarnya dalam pembuatan buku ini, ada banyak kearifan lokal yang
tersaji yang nantinya akan menjadi nilai universal.
Dan sepertinya, dengan isi yang
masih banyak mempertentangkan nilai tradisi dengan nilai universal dalam
beberapa cerpen yang termuat di dalam buku itu, harapan itu bisa jadi masih
berupa harapan belaka. [*]
Jakarta,
Juli 2010
Dimuat di harian Kompas, 14
Juli 2010
Sumber:
http://resensibuku.com/?p=772
http://resensibuku.com/?p=772

Tidak ada komentar:
Posting Komentar