|
|
Judul
buku: Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia
Penulis:
Agus Noor
Penerbit:
Bentang Yogyakarta
Peresensi:
Siti Muyassarotul Hafidzoh
|
Indonesia adalah negeri kaya raya.
Kekayaan alam yang terkandung di bumi Indonesia menjadi modal paling utama
rakyat untuk mengais rizki di dalamnya. Karena begitu melimpah kekayaannya, tak
salah kalau negeri Barat terpesona untuk ikut serta mengais harta di bumi
Nusantara. Portugis, Inggris, Belanda, dan Jepang berturut-turut mengusung
kekayaan Indonesia untuk menambal kekurangan mereka. Francis Goude dalam
Duuchculture Oversease (2005) menyebut kaum pelancong ini telah melakukan
pergundikan di “tanah surga.” Iya, Goude melihat bangsa Barat begitu terpesona
dengan Indonesia karena menjanjikan surga di tanah yang teramat kaya ini.
Tetapi sungguh tragis nasib para
penghuni yang menetap di tanah surga ini. Para penghuni justru menjadi
“pengemis” di negerinya sendiri. Surga yang terkandung di tanah mereka selalu
digadaikan kaum pelancong yang tega dengan saudara sendiri. Walau kemerdekaan
telah diraih, tetapi para penghuni terus menjadi ‘pengemis’ yang bagaikan hidup
di perantauan. Lebih mengenaskan lagi, mereka hidup distempel sebagai kaum
miskin yang diformalkan. Mereka mempunyai “Kartu Tanda Miskin” yang dibuat
negera untuk menentukan status kewargaannya. Dan negara begitu bangga membuat
ribuan kartu miskin buat para penghuni tanah surga.
Kegetiran inilah yang direkam oleh
Agus Noor dalam kumpulan cerpennya bertajuk “Sepotong Bibir Paling Indah di
Dunia”. Logika kehidupan semua terbalik di negeri surga ini. Kebaikan dan
keadilan menjadi sesuatu yang terus disembunyikan, sementara kejahatan dna
kerakusan terus dihadirkan di berbagai penjuru sosok negeri. Jurus yang selalu
digunakan untuk menggadaikan martabat bangsa adalah dengan ‘sepotong bibir’.
Pandai bersilat lidah untuk mengelabuhi dan membohongi rakyat demi meraih
kekuasaan, harta dan jabatan yang diimpikan. ‘Sepotong lidah’ yang hadir bukan
dari sembarang orang, tetapi dari kaum berdasi atau berpangkat bintang yang
berderet-deret jabatan dan mobilnya.
Inilah yang sindir Agus Noor sebagai
“Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia”. Pemilik ‘sepotong bibir’ ini begitu
lincah memainkan bibir dan lidahnya tatkala tanah surga ini akan memilih
memilih wakil rakyat atau pemimpin negeri. ‘Sepotong bibir’ ini menjanjikan
berbagai kemudahan dan kemewahan untuk anak negeri. Mulai dari biaya kesehatan
murah, sekolah gratis, pemberantasan korupsi, minimalisir kemiskinan, kemudahan
lapangan kerja, meningkatkan martabat pertanian, menyantuni fakir miskin dan
anak terlantar, serta menghapus berbagai tindak kekerasan. Begitu fasih
‘sepotong bibir’ mengucapkan berbagai impian tersebut. Rakyat pun tergiur
dengan kefasihan yang diuraikan ‘sepotong bibir’.
‘Sepotong bibir’ kaum elite negeri
surga ini telah membuat beragam kegetiran yang terus menghinggap di wajah
rakyat jelata. Saking panjangnya kegetiran yang dialami para rakyat jelata,
mereka menjadi orang miskin yang bahagia, yang kemiskinannya terus diwariskan
kepada anak cucunya di berbagai jalan raya dan kolong jembatan. Kaum miskin
yang terus disantuni itu dibuat bangga dengan formalitas tanda miskin yang
dicetak negara. Kaum miskin juga terus dibicarakan dalam berbagai seminar,
rapat, diskusi, penelitian, dan lainnya. Kemiskinan menjadi proposal kekuasaan
yang terus dilanggengkan untuk menjadi bahan strategis melakukan kampanye
pemilik ‘sepotong bibir’. Kalau kegetiran dan kemiskinan usai, bisa jadi
pemilik ‘sepotong bibir’ tidak memiliki lagi bahan pembicaraan untuk
menggoda kaum miskin yang sedang bahagia.
Dalam cerpen berjudul “empat cerita
buat cinta”, Agus Noor secara gamblang mengisahkan kegetiran dalam sebuah cinta
di negeri surga. Kisah awal mengukirkan para pemetik air mata yang bangga
dengan keuletan mereka membuat kaum bawah mandi dengan air matanya. Setiap
waktu, kaum miskin hanya bisa menangisi kegetiran yang terus menerpa tanpa
henti ini. Pergantian pemimpin dan kebijakan tidak pernah membuat kaum miskin
untuk tertawa atau sekedar berbagai tawa dengan sesama. Sekelilingnya kaum
miskin selalu hadir kegetiran yang tak pernah terputus. Pemilik ‘sepotong
bibir’ tak henti-henti membuat kegetiran menjadi tangis air mata.
Setelah sukses meneteskan air mata
kegetiran, pemilik ‘sepotong bibir’ melanjutkan keculasannya dengan menjahit
kesedihan. Berkali-kali janji dilayangkan untuk mengurangi kesedihan, tetapi
‘sepotong bibir’ justru membuat kesedihan semakin menyedihkan, yakni dengan
menjahitnya secara paksa tanpa sedikitpun rasa persaudaraan. Kesedihan yang
terus berlanjut semakin ditumpuk-tumpuk, agar kaum miskin ‘memakan’
kesedihannya tanpa henti. Kemudian dilanjutkan dengan melancong kepedihan, agar
kesedihan terus meninggap mencapai kesuksesan.
Sebelum sukses membuat kepedihan,
‘sepotong bibir’ akan melanjutkan kesunyian agar terus menerpa. Setiap kali
mendapatkan bahagia, maka ‘sepotong bibir’ akan menghadirkan kesunyian baru
untuk menutup kebahagian tersebut. Lihatlah kaum petani desa yang terus
terlantar tatkala memanen hasil padinya, karena harga gabah selalu turun
tatkala musim panen tiba. Padahal biaya obat, pupur, dan semacamnya begitu
mahal. Datangnya kebahagian selalu disambut dengan kegetiran yang begitu
dahsyat, sehingga kaum miskin hanya terus meneteskan air sebagai simbol
perlawanan atas ‘sepotong bibir’ yang hanya berjanji dan berjanji semata.
Walaupun tercecer dalam berbagai
cerpen, tetapi pilihan cerpen yang terkumpul ini membuktikan keseriusan Agus
Noor dalam mengkritik kebijakan negara yang tak pernah bersahabat dan ramah
terhadap kaum miskin. Karya ini unik dan autentik dalam mengisahkan kegetiran
dalam kecamuk kehidupan. [*]
Dimuat di harian Kompas, 12
Januari 2011
Sumber:
http://resensibuku.com/?p=1075
http://resensibuku.com/?p=1075

Tidak ada komentar:
Posting Komentar