|
|
Judul: Magical Leadership:
Mempraktikkan
Kepemimpinan dan Manajemen yang Menyihir
Penulis:
Tom Morris
Penerbit:
Nuansa Cendekia, Bandung
Tahun:
I, Juni 2010
Tebal:
406
Peresensi:
Makmun Yusuf
|
Ada banyak jalan meraup ilmu
pengetahuan. Salah satunya ialah berguru pada kesuksesan dari sesuatu yang
diminati masyarakat. Sudah barang tentu sesuatu disukai atau tidak itu memiliki
alasan dan latar belakang. Harry Potter, buah karya J K Rowling, memiliki
pesona untuk diserap ilmunya. Magical Leadership adalah buku yang berambisi
menggali mutiara dari kisah Potter.
Salah satu yang paling menonjol
ditulis oleh Tom Morris ini ialah karakter kepemimpinan. Kepemimpinan yang
menyihir , demikian istilahnya, ternyata bukan berbasis dari klenik atau
supernatural, melainkan dari basis kemanusiaan. Alasan Morris menulis buku ini
ialah ketakjuban mengapa banyak orang tertarik dengan Potter.
Di mata Morris, Potter bukanlah
sesuatu yang hampa tanpa makna seperti yang dibayangkan kebanyakan orang, atau
seperti para pembaca dan penonton yang setengah hati menyerap pengetahuan di
dalamnya. Dengan cara khusus inilah Morris tertantang untuk memberikan makna
khusus melalui buku ini.
Morris berpikir Harry Potter sama
sekali bukan untuk menunjukkan kepada anak-anak, dan juga kepada para pembaca
dewasa lainnya, pentingnya tongkat dan mantra sihir dalam kehidupan para
tokohnya, tetapi lebih untuk menunjukkan pentingnya kebajikan klasik pada
kehidupan mereka, dan implikasinya pada kehidupan kita juga (halaman 35-36).
Leadership (kepemimpinan) dalam
sosok Potter memiliki esensi jiwa kepemimpinan humanis. Potter bukanlah raja,
melainkan mitra setara yang bekerja untuk kelangsungan pergaulan hidup
kolektif. Kita tahu, Harry Potter, oleh JK Rowling didudukkan sebagai seorang
anak yang hanya memiliki beberapa kelebihan, juga kekurangan.
Anak-anak lain pun memiliki hal yang
sama. Harry bukanlah orang yang serba mampu dalam banyak hal. Ia anak biasa,
yang lazim bingung, mudah kaget oleh sesuatu yang mendadak, tidak banyak
pengetahuan yang menonjol dari teman-temannya, dan sering melakukan kesalahan.
Melalui Harry Potter, Morris
menunjukkan bahwa JK Rowling adalah seorang filsuf yang cerdas karena mampu
menyampaikan gagasan hidup yang unik kepada setiap orang, dari anak-anak sampai
orang tua.
Di dalamnya terentang luas makna
kehidupan dari habitat kemanusiaan, bahwa ternyata hidup ini tidak akan
ditemukan kekuatan hebat dari mantra, kitab tua, kata rahasia, batu bertuah
atau sesuatu yang tanpa proses.
Yang ada justru sebuah makna tentang
bagaimana keajaiban hidup itu bisa dihasilkan melalui perjuangan kemanusiaan.
[*]
Dimuat di Koran Jakarta, 06
Desember 2010
Sumber:
http://resensibuku.com/?p=1026
http://resensibuku.com/?p=1026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar