|
|
Judul:
Menguak Misteri Sejarah
Penulis:
Asvi Warman Adam
Penerbit:
Penerbit Buku Kompas
Peresensi:
Nigar Pandrianto
|
Sebuah historiografi sulit untuk
netral. Berbagai kepentingan selalu berlibat-libat di situ. Jadi tidak mudah
untuk mengetahui sejarah dengan lurus. Metodologi penulisan yang ketat menjadi
sebuah keharusan. Buku yang ditulis Asvi Warman Adam ini memang tidak
berpretensi untuk meluruskan sekian banyak peritiwa sejarah yang terjadi di
tanah air.
Namun, dari artikel-artikel yang
ditulisnya, pembaca dapat mengetahui kisah-kisah tidak terungkap sampai
persolan-persoalan yang terkait dalam sejarah Indonesia. Membaca kisah-kisah
tidak terungkap dalam buku ini, pembaca akan merasa seperti menikmati mozaik
sejarah yang belum banyak diketahui secara luas.
Sebut saja kisah mengenai Ibrahim
Yacoob yang pernah menggagas penyatuan Malaysia ke Indonesia (halaman 32-35).
Meskipun gagasan itu tidak pernah terwujud, namun pelajaran yang dapat diambil
dari peristiwa itu ialah, masih dapat dilakukannya kerja sama positif antara
Malaysia dan Indonesia. Jadi, seruan perang ketika hubungan antar keduanya
memanas, bukanlah rekomendasi yang tepat.
Tentu saja hubungan antar keduanya
harus dilakukan dengan menghormati prinsip-prinsip kesejajaran. Lebih penting
lagi, kerja sama itu harus mendatangan manfaat dan keuntungan bagi kedua belah
pihak secara seimbang. Contoh mozaik lainnya adalah bahwa Pramoedya Ananta
Toer, yang pernah dicalonkan sebagai penerima hadiah Nobel, ternyata tidak
hanya seorang sastrawan, tetapi juga seorang sejarawan.
Dalam catatan Asvi, Pramoedya pernah mengumpulkan sejumlah bahan tulisan mengenai gerakan nasionalis yang terjadi antara 1898-1918. Bahan yang disusun oleh Pramoedya tersebut kemudian menjadi diktat kuliah yang diberi judul “Sejarah Modern Indonesia”.
Dalam catatan Asvi, Pramoedya pernah mengumpulkan sejumlah bahan tulisan mengenai gerakan nasionalis yang terjadi antara 1898-1918. Bahan yang disusun oleh Pramoedya tersebut kemudian menjadi diktat kuliah yang diberi judul “Sejarah Modern Indonesia”.
Menurut Asvi wajar jika Pramoedya
disebut sebagai sejarawan, sebab ia selalu membawa peristiwa sejarah dengan
perspektif baru. Di sinilah Pramoedya berusaha mengurangi cara kekuasaan
“mengonstruksi” kebenaran. Baginya fakta adalah rekan kekuasaan.
Banyak topik menarik seputar sejarah
dan penulisan sejarah yang ditulis dalam buku ini, mulai dari kontroversi
pemberian gelar pahlawan, terlupakannya orang-orang penting dalam sejarah,
simpul-simpul masalah seputar kasus bank Century, hingga berbagai percikan
persoalan seputar sejarah bangsa.
Inilah yang membuat buku ini “dekat”
dengan kekinian. Dari kumpulan tulisan Asvi ini sebenarnya pembaca dapat
memahami bahwa penulisan sejarah tidak pernah lurus, artinya selalu ada
kekuasaan yang menempel padanya. Tidak mengherankan jika kemudian penulisan
sejarah selalu memihak kepada kekuasaan. (*)
Dimuat di Koran Jakarta, 04
Desember 2010
Sumber:
http://resensibuku.com/?p=1061
http://resensibuku.com/?p=1061

Tidak ada komentar:
Posting Komentar